Bab 27

1193 Words

Pagi berikutnya, rumah keluarga Wijaya mulai ramai. Suasana sarapan sedikit tegang, meskipun lampu pagi menyinari ruang makan dengan lembut. Farah duduk di kursi yang sama seperti sebelumnya, buket mawar merah masih tersusun di sebelahnya, aroma bunga yang hangat menempel di udara. Mata Farah terus mengamati gerak-gerik Amanda dan Sabrina, memastikan setiap gerakan mereka tercatat dalam benaknya. Ia tahu, di rumah ini, setiap interaksi bisa menjadi ujian atau jebakan. Sebastian masuk ke ruang makan beberapa saat kemudian. Ia menyapa Farah dengan senyum hangat. “Selamat pagi, sayang,” ucapnya lembut, suaranya membawa kehangatan yang membuat Farah tersenyum tipis. Farah membalas dengan suara lembut, “Selamat pagi, suamiku,” menjaga nada suaranya agar terdengar natural, persis seperti yang d

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD