Farah menata buket bunga di meja, memastikan setiap tangkai tetap rapi. Ruang makan sudah sepi, hanya tersisa ia, Amanda, dan Sabrina. Amanda duduk di kursi, matanya masih menyipit, menatap Farah dengan intens, menunggu gerakan sekecil apa pun yang bisa dijadikan alasan untuk menegur atau menantang. Sabrina tetap diam, matanya tajam mengamati kedua wanita itu. Farah menarik napas panjang, menenangkan diri, dan menegaskan kembali dalam pikirannya bahwa setiap gerakan dan kata-katanya harus terlihat seperti Sarah—ramah, sopan, dan tenang—sementara di balik itu, ia tetap waspada dan menyusun strategi. Sebastian sudah pergi ke kantor pagi tadi, meninggalkan rumah dalam suasana yang tenang namun tegang. Farah menatap buket bunga sekali lagi, memutar tangannya di antara jari-jari, mencium aroma

