Bab 32

1046 Words

Pagi datang dengan langit kelabu. Farah terbangun sebelum alarm berbunyi, tubuhnya terasa ringan namun pikirannya berat. Ia menatap langit-langit kamar cukup lama, memastikan dirinya benar-benar siap menjalani hari ini. Pesan Anwar semalam masih terngiang, seperti bayangan yang mengikuti setiap langkahnya. Ia bangkit, mandi, lalu memilih gaun berwarna biru muda. Tidak terlalu mencolok, tidak pula terlalu sederhana. Saat ia mengikat rambutnya setengah ke belakang, pintu kamar terbuka pelan. Sebastian masuk, sudah rapi dengan kemeja dan jas gelap. Wajahnya terlihat segar, tapi sorot matanya serius. “Kau bangun cepat,” katanya. Farah menoleh. “Aku sulit tidur.” Sebastian mendekat, berdiri di belakangnya. Tatapan mereka bertemu lewat cermin. Ia mengulurkan tangan, merapikan satu helai ram

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD