Malam semakin larut ketika Sebastian kembali ke ruang keluarga. Wajahnya tampak lebih serius dari sebelumnya, ponsel masih berada di tangannya. Farah menatapnya, mencoba membaca perubahan kecil di ekspresi pria itu. “Telepon dari kantor,” kata Sebastian singkat. Ia duduk di sofa, menghela napas panjang. “Ada beberapa dokumen yang harus kuperiksa besok pagi.” Farah mengangguk. “Kau terlihat sangat lelah.” Sebastian menoleh dan tersenyum tipis. “Tidak apa-apa. Melihatmu di sini sudah cukup.” Kalimat itu membuat Farah terdiam. Ia membalas senyum Sebastian sekilas, lalu bangkit. “Aku akan membuatkan teh hangat.” Saat Farah kembali dengan dua cangkir teh, Sebastian sedang memandangi jendela. Cahaya lampu taman memantul di kaca, membuat bayangan mereka samar. Mereka duduk berdampingan, heni

