Sore hari tiba, cahaya matahari menyelinap melalui tirai jendela, menyinari ruang keluarga dengan hangat. Farah duduk di sofa, memandangi buket bunga yang masih tersisa di meja. Tangannya menyentuh kelopak mawar dengan hati-hati, memastikan tidak ada yang rusak, sambil terus memperhatikan suasana di sekeliling. Amanda duduk di kursi berseberangan, matanya terus memantau gerak-gerik Farah. Bibirnya tersenyum tipis, tapi senyum itu penuh maksud tersembunyi. “Kau benar-benar pandai menahan diri, Sarah,” ucap Amanda pelan, suaranya setengah mengejek. “Aku hampir tidak percaya kau bisa begitu tenang setelah semua yang terjadi.” Farah menatap Amanda sekilas, lalu menunduk, menjaga ekspresinya tetap datar. “Aku hanya mencoba bersikap seperti biasanya,” jawabnya singkat, suaranya tetap stabil. I

