Malam mulai turun di rumah keluarga Wijaya. Lampu-lampu di ruang makan menyala redup, memancarkan cahaya hangat yang menyelimuti meja panjang. Farah duduk di kursi dekat jendela, tetap memeluk buket bunga yang ia terima sore tadi. Tangannya terus menyentuh kelopak mawar dengan lembut, menahan rasa haru sekaligus ketegangan. Ia sadar, perhatian Sebastian bukan sekadar romantisme, tapi juga cara untuk memastikan dirinya tetap aman dalam rumah yang sarat intrik ini. Di sisi lain meja, Amanda duduk dengan tangan menyilang, matanya terus mengikuti gerak-gerik Farah. Bibirnya mengerucut, menyiratkan rasa tidak senang yang jelas. Sabrina duduk di kursi rodanya, menatap Farah dengan sorot mata tajam, diam namun penuh perhitungan. Nenek itu menilai setiap gerak-gerik dan ekspresi Farah, mencatat s

