Pagi itu, cahaya matahari masuk lembut melalui jendela ruang makan utama. Aroma kopi dan roti bakar memenuhi ruangan, namun suasana terasa agak tegang. Semua orang sudah berkumpul, termasuk Sabrina dan Amanda, sementara Farah duduk di ujung meja. Semua menatapnya dengan tatapan berbeda—penasaran, penuh perhitungan, dan sedikit curiga. Sebastian duduk di sisi Farah, jarak mereka tidak terlalu jauh. Sesekali ia menoleh padanya, memastikan ia benar-benar sehat dan nyaman. “Sarah,” panggilnya lembut sambil menyuapi roti ke piringnya. “Sayang, sarapanmu sudah siap. Mau kopi atau teh?” Farah menelan ludah. Panggilan itu—“Sarah” di depan semua orang—menegaskan perannya di mata keluarga ini. Ia tersenyum tipis dan menjawab, “Teh saja, terima kasih, suamiku.” Ia berusaha terdengar tenang, tapi ja

