Makan malam berakhir tanpa ledakan emosi yang terang-terangan. Para pelayan mulai membereskan meja dengan gerakan teratur dan senyap. Sabrina bangkit lebih dulu dari kursinya, wajahnya tetap datar, sorot matanya tajam seperti biasa. “Cukup untuk malam ini,” ucapnya singkat. “Aku lelah.” Pelayan segera mendekat, membantu mendorong kursi roda Sabrina keluar dari ruang makan. Amanda ikut berdiri, tapi sebelum pergi, ia menoleh ke arah Farah. Tatapannya dingin, tidak lagi disembunyikan. “Selamat menikmati perhatianmu, Sarah,” katanya pelan, hampir seperti bisikan. “Kita lihat sampai kapan itu bertahan.” Farah tidak menjawab. Ia hanya menatap Amanda sebentar, lalu menundukkan pandangan kembali ke meja. Ia tahu, membalas sekarang hanya akan memperpanjang masalah. Begitu Amanda pergi, ruang

