"A–apa aku salah lihat? Tidak mungkin dia bersama papaku, 'kan?" gumam Ronald yang kebetulan ada di sekitar club. Matanya seakan membenarkan kalau yang ia lihat adalah Kiara, tapi hatinya memberontak sepenuhnya! Ia merasa tidak mungkin, sungguh semua tidak mungkin. "Tidak mungkin, untuk apa pria itu bersama gadis payah! Dia pasti sedang cari daun muda, eh! Tunggu dulu, bukankah papa tidak perkasa, dan Kiara itu payah di ranjang? Jangan-jangan..." kedua bola mata Ronald membola saat ia mulai memikirkan sesamaam yang ia terapkan sendiri pada papa dan mantan kekasihnya itu.
***
Sementara itu di tempat lain..., setelah beberapa saat kemudian akhirnya mobil yang melaju perlahan menepi saat sampai ke tempat tujuannya pada hari yang sore, bahkan hampir malam.
Kiara di antar pulang ke rumahnya, namun sebelum ia benar-benar pergi, ia tampaknya tetap duduk di kursi samping kemudi.
"Sudah sampai, tunggu apa lagi?" tanya Arthur.
"Daddy, kamu tahu alasan kenapa aku memutuskan memberikan suatu yang berharga dalam diriku untukmu, tapi – kenapa kamu tidak mau mengatakan padaku, kenapa kamu mau menjadikan aku sebagai Sugar Baby milikmu?" tanya Kiara dengan suara manjanya. Tubuhnya sudah condong ke arah Arthur, dan jadi jemari lentiknya mulai menjelajah d**a bidang Arthur.
Arthur menatapnya dengan dingin, sebelum akhirnya ia meraih rambut Kiara dan.. "Ah, Daddy!" gumam Kiara.
"Tidak cukupkah hanya menerima uangku saja?" tanya Arthur dengan sedikit kesal. Tangannya memperlakukan Kiara dengan kasar, tapi anehnya Kiara malah menyukainya dan gairah dalam tubuhnya kembali bangkit.
"Daddy, tidakkah bisa kita lakukan sekali lagi?" tanya Kiara.
"Jangan berbuat hal macam-macam lagi, Baby. Sebaiknya kamu keluar, besok aku akan menghubungi kamu agar datang ke suatu tempat." ujar Arthur.
Dengan rasa kesal, Kiara akhirnya turun dari mobil mewah milik Arthur. Pada saat itu, ia menatap kepergian mobil Arthur hingga tidak lagi terlihat. Di dalam otak Kiara, ia mulai mencari-cari cara agar pria itu mau bicara padanya mengapa ia mau menjalankan hubungan gelap ini meskipun ia tahu siapa Kiara.
"Ini aneh, aku harus membuatnya mengatakan segala hal padaku, hingga begitu – aku bisa membuatnya tidak akan berpaling dariku, ataupun meninggalkan aku!" gumam Kiara. Hal yang awalnya menjadi obsesi kini malah menjadikan suatu ambisi. Hasrat membara dan sentuhan pria itu yang mampu membuatnya merasakan surga dunia akhirnya membuatnya berpikir keras agar bisa mencari jalan apapun itu.
"Aku akan pikirkan nanti, masih ada waktu bagiku untuk mencari cara sampai hari esok." gumam Kiara pada saat itu.
Kiara akhirnya melangkah maju menuju ke kediamannya, ke rumah kontrakan yang sudahnia huni bertahun-tahun, dan tentu pada bulan itu tunggakannya sudah sampai beberapa bulan.
Kiara bukan anak orang kaya, dan keluarganya hidup penuh kekurangan di desa, tapi – mereka mengandalkan Kiara sehingga semua terasa menjadi beban bagi Kiara.
***
Malam berlalu, dan esokpun tiba.
Kiara terbangun di jam 5 pagi. Suara dari dering ponsel membuatnya terbangun, "Padahal aku tidak menghidupkan alaram, kenapa ponselku berbunyi sedari tadi sih?!" gerutu Kiara sembari mendengus kesal saat ia mulai terbangun dari tidurnya.
Ia merasa begitu kesal saat ponselnya terus sa ja berbunyi, tapi lama kelamaan, ia akhirnya menyadari kalau bunyi dari dering ponselnya adalah panggilan suara.
"Siapa yang menghubungiku jam segini? Tidak mungkin Om Arthur, 'kan?" gumam Kiara dengan mata yang sudah membola sepenuhnya.
Mata Kiara yang tadi masih sedikit mengantuk akhirnya melebar sepenuhnya saat melihat nama yang tertara di dalam ponselnya. "Sugar Daddy" nama yang masih belum terbiasa bagi Kiara.
"Kenapa dia menelpon jam segini?" gumam Kiara dengan sangat bingung. Ia akhirnya mengangkat telepon tersebut meski merasa heran dengan pria itu yang menghubunginya di pagi buta.
"Hallo, Daddy? Kenapa kamu menghubungiku di jam segini?" tanya Kiara dengan suara yang terdengar canggung.
"Bukankah aku membayar mu mahal? Berani kamu tidak mengangkat teleponku?!" Suara Arthur yang ada di dalam sambungan telepon itu terdengar sangat kesal. Kiara tercenung sejenak, dan jujur ia masih belum paham sikap dan sifat pria itu.
"Maaf, Daddy. Bukannya tidak mau mengangkat telepon dari kamu, aku baru saja bangun tidur." balas Kiara dengan suara yang ia buat selembut mungkin.
"Cepat bersiap, aku beri waktu dalan 10 menit! Kamu harus selesai dan sudah keluar dari dalam rumah! Aku segera sampai!" tekan Arthur lagi dalam sambungan telepon. Setelah itu sambungan telepon dimatikan, Kiara terdiam beberapa saat, hingga akhirnya ia bangkit dari ranjangnya dan...
"Alah, Mak! Nyeri sekali kaki dan pinggangku." gumam Kiara sembari sedikit membungkuk lalu menuju ke kamar mandi. Ia lupa kalau aktivitasnya kemarin meninggalkan bekas yang pasti membuatnya tidak bisa spontan bergerak, tapi – waktu sepuluh menit..., sungguh bagaikan berada di barak militer saat ia harus bersiap dalam waktu sepuluh menit.
Kiara juga yakin, ia pasti harus tampil sesempurna mungkin–mengingat Arthur adalah orang yang sedikit keras dan egois. Kesalahan sedikit saja bisa membuat pria itu marah, contohnya mengangkat telepon tadi, yang jelas-jelas Kiara pasti masih tertidur, tapi pria itu tidak mau tahu apapun itu alasannya.
"Sepuluh menit, sepuluh menit..." gumam Kiara sembari mencoba mempercepat langkahnya, meskipun kakinya bahkan ikut nyeri sekali rasanya. "Sialan! Pria itu memang gila!" gumam Kiara pada saat itu.