Tidak tahu sudah berapa lama Ivy tertidur, yang ia tahu hanyalah ketika ia bangun jendela sudah menunjukkan langit yang gelap berbeda ketika tadi siang ia masuk ke dalam kamar itu.
"Jam berapa ini? Ya Tuhan, ini udah malam. Aku harus cepat pulang, Eri pasti khawatir dan mencariku," monolognya.
Ivy menoleh ke samping, dan di sana sudah kosong. Tangannya mencoba meraba sisi kain itu.
Sudah dingin, itu berarti lelaki tadi sudah cukup lama meninggalkan ranjang. Nafas panjang yang melegakan langsung Ivy lakukan.
Kembali Ivy mencoba bangun dari tempat tidur. Kali ini mungkin ia bisa benar-benar pergi.
Namun gerakan pertamanya lagi-lagi harus tertunda. Ivy meringis kesakitan ketika ia merasakan perih di antara kedua pahanya juga kedua pergelangan tangannya.
Rasa sakit nan ngilu itu membuatnya nyaris tak mampu bergerak. Apa memang rasanya sesakit ini?
Tapi dulu ia sempat mendengar obrolan teman kerjanya di klub. Berbicara tentang betapa mereka menikmati setiap momen percintaan bersama kekasih atau pelanggan yang selalu ingin diulangi lagi.
Sedangkan Ivy, hanya rasa sakit yang tersisa untuknya sekarang. Meski tadi dirinya sempat tergoda dan untuk beberapa saat ia terlena dengan sentuhan pria asing tadi.
Ivy menggeleng, berusaha menghilangkan pikiran yang tak seharusnya ia pikirkan. Saat ini ada hal yang lebih penting, ketimbang testimoni after bercinta.
Kembali Ivy menguatkan tubuh dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Masih mencoba untuk menguatkan raganya, Ivy terus mengeluh ketika rasa sakit itu makin menjadi saat ia berjalan. Sembari mencoba mengumpulkan pakaiannya yang berserakan di lantai.
Tapi tiba-tiba ada suara yang membuatnya terkejut. “Siapa yang nyuruh kamu pakai baju?!”
Ternyata itu adalah Bravino. Lelaki itu sepertinya baru selesai mandi. Terlihat dari masih adanya beberapa titik air yang membasahi rambut, leher juga dadanya.
Ivy menelan ludah. Susah payah ia mengumpulkan konsentrasi untuk menjawab pertanyaan lelaki di hadapannya. Rasa takut juga pemandangan asing yang terlalu dewasa itu membuatnya merinding.
“Ma-maaf, ini sudah malam dan aku harus pulang. Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan, bukan? Jadi tolong … biarkan aku pergi.”
Ivy memohon dan memberikan tatapan memelas. Ingin rasanya ia teriak protes akan mahkotanya yang direbut paksa dengan alasan yang tak masuk akal.
Namun Ivy sadar posisinya saat ini tak memungkinkan untuk itu. Protesnya pun tak akan mengembalikan kesuciannya kembali utuh.
Bahkan bisa mengakibatkan hal yang lebih buruk lagi. Mengingat ancaman lelaki garang di hadapannya ini sangat menyeramkan.
Ivy hanya ingin mengakhiri penderitaan beberapa jam terakhir ini. Ingin segera keluar dari neraka yang mengurungnya dalam lembah dosa. Mungkin setelah ini ia bisa bertobat dan meningkatkan ibadahnya yang masih sering terabaikan.
“Kamu boleh pergi kalau aku mengijinkannya. Kalau tidak, kamu gak akan bisa melakukan hal itu!” seru Bravino.
Air mata Ivy kembali luruh. Ia berlutut, meski sedikit sulit karena selimut yang masih melilit di tubuhnya. Rasa ngilu di bagian intinya sama perih dengan hatinya.
“Aku mohon, tolong lepasin aku. Kenapa aku harus merasakan ini semua? Kenapa kamu harus menghukum aku dengan sangat kejam hanya karena aku terlambat mengirimkan pesanan makananmu? Ini gak adil buatku?!”
Ivy terus menerus tergugu. Wajahnya memerah karena tangis yang kembali pecah. “Ini benar-benar gak adil. Kamu penjahat!” ucap Ivy lagi.
Alis di atas mata Bravino berkerut. Ucapan itu baru kali ini membuat Bravino menyadari satu hal.
Dari awal memang pembicaraannya dengan wanita cantik itu seperti tidak pernah nyambung. Ia ke kiri dan perempuan itu ke kanan.
Hanya saja setelah Bravino tadi merasakan efek obat perangs4ng yang diberikan oleh salah satu saingan bisnisnya, pikirannya jadi sedikit kacau.
Yang ada di kepalanya adalah dirinya harus segera meniduri wanita yang sudah ia pesan lewat mucikari langganannya, yaitu Jhon. Dan begitu seorang wanita datang, ia yakin bila pesanannya telah tiba.
“Jadi, kamu bukan wanita suruhan Jhon?” tanya Bravino dengan mata menyidik.
Kening Ivy berkerut, ia berusaha menjawab meski itu sulit karena ia masih terus menangis.
“Jhon siapa? Aku gak tahu siapa itu Jhon. Aku cuma kenal Pak Slamet. Dia adalah Bossku di restoran siap saji tempat kamu memesan makanan tadi. Dia yang menyuruh aku ke sini untuk mengantar pesanan makanan itu."
Bravino menutup mata kemudian menggaruk kepalanya dengan kuat.
‘Damt it! Aku sudah melakukan sebuah kesalahan. Dia bukan wanita bayaran. Jadi itu alasan kenapa dia masih perawan tadi,’ monolog Bravino dalam hati.
“Aku mohon lepaskan aku, Tuan. Aku janji tidak akan melaporkan kejadian ini pada siapapun. Aku hanya mau pulang. Adikku di rumah sendirian menungguku. Pasti sekarang dia sudah mulai mencariku,” pinta Ivy lagi.
Bravino menatap Ivy, otaknya sedang berpikir keras. Ia bisa saja melepaskan wanita tadi, atau … tidak sama sekali.
Yah, ia sanggup melakukan apapun yang ia mau.
“Kamu boleh keluar dari rumah ini, tapi dengan satu syarat.”
“Syarat? Syarat apa?”
Bahkan setelah kehormatannya ya g direnggut paksa kini Ivy juga harus merelakan kebebasannya. Memangnya pria itu pikir siapa dirinya?
Baru saja Ivy akan membantah, tapi ucapan Bravino berikutnya membuat ia terperanjat.
“Jadi simpananku, dan aku akan jadi sugar Daddy kamu. Kamu terlihat masih sangat muda, dan aku menyukai tubuhmu. Aku akan memberimu apapun yang kamu minta, asal kamu selalu siap melayaniku.”
Ivy membuka matanya lebar-lebar. ‘Hal gila apa lagi ini?!’
"Jangan keterlaluan! Kamu itu penjahat, aku akan melaporkan semua ini!"
Mendengar makian itu Bravino malah tertawa, meremehkan.
"Tadi kamu bilang tidak akan melakukan itu."
Ivy menggeleng. Telunjuk kecilnya menunjuk lurus ke wajah Bravino. "Awalnya aku berniat seperti itu. Tapi sekarang kamu sangat keterlaluan! Kamu gila!"
Ivy menjerit dan memaki Bravino, sesaat ia melupakan ketakutannya tentang lelaki yang sudah mengguncang dunianya.
Tanpa disangka, Bravino mengangkat tubuhnya, meletakkan dirinya di bahu lalu melemparnya ke atas ranjang.
"Lepas! Aku gak sudi kamu sentuh lagi! Kamu penjahat!"
Seperti di awal pertemuan mereka tadi, Bravino berusaha menahan Ivy agar tak memberontak. Meski kali ini gadis yang telah ia ubah menjadi wanita dewasa itu jadi lebih kuat.
Bravino berhasil menangkap kedua tangan Ivy, menyatukannya ke atas. Kedua matanya memaku Ivy ke dalam tatapan yang tajam.
Seorang Bravino tak akan terkalahkan, oleh siapapun. Apapun yang ia ingin, pasti akan ia dapatkan.
“Kamu tidak punya pilihan lain, take it atau selamanya kamu tidak akan pernah pergi dari rumah ini dan juga tidak akan bertemu dengan adikmu! Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku!"