Lana hanya menghela lemah saat dirinya berdiri di depan gerbang rumah Dika. Seharusnya ia pulang ke apartemen miliknya, tapi kenapa langkah kakinya terus melangkah ke rumah Dika. Bahkan kini sudah berada di depan pintu masuk. Apakah ada yang salah dengan pikirannya, hingga ia memilih kembali melibatkan diri dalam kisah cinta rumit diantara mereka? Tapi hati tetap tidak bisa berbohong. "Sudah pulang?" Sapa Dika yang tengah duduk di sofa. "Iya." Balas Lana. "Pasti lelah," Dika beranjak dari tempat duduknya menghampiri Lana. Satu tangannya hendak menyentuh kepala Lana, tapi tidak sampai menyentuh, hanya mengambang di udara. "Maaf," Dika terkekeh. "Hampir saja kelepasan." Dika memasukan kedua tangannya kedalam kantong celana. "Sudah makan?" Tanya Lana. "Belum, baru minum jus. Ada