“Gue mau pindah ke Indonesia, kayaknya buat beberapa tahun ke depan. Sama anak-istri, sekalian buka cabang bisnis baru,” kata Davin santai sambil menyeruput teh yang disiapkan Bi Surti. “Nah, kebetulan nih, istri gue punya kenalan—Caucasian, cantik banget, elegan juga. Katanya naksir lo waktu lo ke Inggris kemarin. Gimana? Cocok lah jadi ibu sambungnya Keandre.” Darren yang sedang menatap ponselnya menoleh cepat, sempat tertegun. Ia menatap kakaknya dengan ekspresi sulit dijelaskan antara geli dan tidak tahu harus menanggapi seperti apa. “Mas, lo ini ngomong apa sih?” Davin tertawa kecil. “Lah serius, bro. Orangnya cantik, lo juga masih single. Gue pikir cocok. Lo butuh pendamping, kan? Lo udah terlalu lama sendiri.” Darren hanya menggeleng pelan, menahan senyum tipis. “Enggak perlu, Ma

