Alena duduk bersandar pada kepala ranjang, matanya kosong menatap layar ponsel yang gelap. Sudah seminggu sejak kunjungannya ke rumah sakit. Keandre pun sudah pulang dan keadaannya membaik. Semua kembali seperti biasa, tapi justru karena itulah dadanya terasa sesak. Hubungannya dengan Darren menjadi renggang setelah malam itu. Sementara hubungannya dengan Keandre semakin hambar, seperti dua orang yang hanya menjalankan rutinitas tanpa benar-benar saling hadir. Alena memang berhasil membalas luka hatinya karena perselingkuhan Keandre sedikit demi sedikit, tetapi ia tidak menyangka akan terjebak pada perasaannya sendiri. Ia merapikan posisi duduknya, rambutnya dicepol asal, beberapa helai jatuh di sisi wajahnya. Meski terlihat lelah, tetap ada kecantikan tenang di sana. Ia mengangkat pon

