“Kapan kamu mau berhenti main-main terbang di Surabaya dan pulang mengurus bisnis keluarga di Jakarta, Valen?” Suara Barandra Aksara terdengar kaku dan menekan lewat sambungan telepon. Valen menghela napas panjang, menggeser posisinya di tepi ranjang kamar hotel bintang lima di kawasan Surabaya Barat. Kemeja seragam penerbangnya sudah terlepas, menyisakan kaos polos hitam yang santai. Di luar jendela kaca setinggi langit-langit, pendar lampu Kota Surabaya membentang indah di bawah langit malam yang pekat. “Terbang bukan main-main, Pa,” balas Valen, suaranya tetap rendah, tenang, namun menyisakan ketegasan yang tak tertembus. “Ini profesi yang Valen pilih dan perjuangkan dari nol. Bukan hobi akhir pekan.” “Dari nol kamu bilang?” Barandra terkekeh dingin di ujung telepon, sebuah tawa khas

