Takut ketahuan akan keberadaannya, Nadine melangkah perlahan menuju dapur, meski perasaan gelisah terus merayap di dalam d**a. Ucapan Denada tadi begitu menusuk pikirannya. "Apa maksud ucapan Nonya Denada? Siapa yang ingin dia lenyapkan?" batin Nadine. "Jangan-jangan .... Nggak, itu nggak mungkin." Dia menerka sesuatu, namun mencoba menepis pikiran itu. Tetapi rasa was-was itu tak kunjung pergi. Setelah membuat jus dan mengambil brownies cokelat yang tadi telah ia buat, Nadine kembali ke kamar dengan langkah berat. Langsung menghampiri Keenan sudah menunggunya. "Mas Keenan, coba deh ini," katanya pelan sambil meletakkan jus jeruk serta brownies di atas meja. Keenan terkejut, namun bukan makanan dan minuman, melainkan panggilan itu—panggilan Nadine untuknya, yang jelas dia tidak suka.