Sekolah menengah atas, tahun terakhir. Jam pelajaran baru saja dimulai, dan seperti biasa, kelas XII IPA-1 dipenuhi dengan riuh rendah suara siswa yang belum siap menerima kenyataan bahwa pagi sudah datang. Di bangku paling depan, Anggita Daryani duduk tegak, buku catatan di tangan, mata fokus ke papan tulis. Ekspresinya serius, sedikit kaku. Tidak ada yang menyangka, di balik wajah tenang itu, ia menyimpan ambisi besar—menjadi juara kelas, juara lomba debat, juara apa pun yang bisa dimenangkannya. Ia ingin lulus dengan predikat terbaik, juara satu paralel di seluruh sekolah. Di bangku belakang, ada satu nama yang selalu berhasil mengusik ketenangannya: Rafka Wijaya. Rafka bukan tipe murid berandalan, tapi sikap santainya selalu membuat guru geleng kepala. Ia pintar, cepat tanggap, dan

